Sunday, October 10, 2010

Ustadz Zaitun Menjanjikan: Ummahat yang Hafal Al Quran 1 Tahun, Dapat Hadiah Umrah Bersama Suami

Wahdah Canangkan Gerakan “Satu Rumah Satu Penghafal Al Quran”

* Ummahat yang Hafal Al Quran 1 Tahun, Dapat Hadiah Umrah Bersama Suami

Makassar DPP, Melalui acara Tablik Akbar dan Silaturahmi Keluarga Besar Wahdah Islamiyah pasca Idul Fitri 1431 H, Ahad, 19 September, di Kompleks Kantor DPP WI Jl.Antang Raya N0.48 Makassar, Dewan pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah mencanangkan secara resmi program Nasional “Satu Rumah Satu Penghafal Al Quran.


Gerakan ini dicanangkan sebagai wujud kongkrit untuk lebih mendekatkan diri dengan Al Quran, dan juga sebagai respon beberapa waktu lalu adanya rencana seorang pendeta bernama Terry Jones, pemimpin sekelompok jemaat gereja Evangelist di Florida AS telah mengumumkan niatnya membakar Al Qur’an. Dan pada akhirnya ada dua pendeta pendeta Bob Old dan Danny Allen melaksanakannya, Mereka membakar Alquran di halaman belakang sebuah rumah di Springfileld, Amerika Serikat, Sabtu (11/9) silam.

Gerakan ini merupakan salah satu poin dari pernyataan Sikap DPP Wahdah Islamiyah menyikapi aksi tersebut. Sebagai wujud nyata pembelaan kita terhadap Al Quran, kami menyerukan untuk bersegera menghafal dan menjaganya di dalam dada-dada kita serta memberi dukungan sepenuhnya bagi anak dan generasi muda kita untuk menjadi generasi Qurani yang menjaga Al Quran dalam dada, lisan dan perbuatannya.

Dalam pernyataan sikap tersebut, juga mengingatkan pula kepada kaum muslimin agar semangat pembelaan terhadap kitabullah dan ghirah terhadapnya diwujudkan pula dengan semangat yang sama untuk kembali kepada Al Quran dan semakin meningkatkan iman terhadapnya dengan membaca, mentadabbur (mengkaji), dan tentunya mengamalkan dan mendakwahkannya.


Acara silaturahmi ini diisi ceramah tablik akbar oleh Ketua Umum DPP WI Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA. Dalam Taujihatnya, Ustadz menekankan akan pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan sesama muslim. Islam sangat memperhatikan masalah ini, banyak syariat dalam agama yang mengajarkan kepada kita penting persaudaraan dan jamaah, mulai dari perintah Shalat Lima kali dalam sehari semalam secarah berjamaah, shalat Jumat secara berjamaah, dalam skala tahunan Shalat Dua hari raya, disyariatkan berjamaah dalam jumlah banyak, sampai dalam skala besar, syariat ibadah haji yang mengumpulkan manusia dari seluruh dunia.

Dari berbagai syariat ini, menurut Ustadz dapat diambil pelajaran bahwa setiap muslim diharapkan mempunyai kepedulian terhadap persatuan dan persaudaraan.

Tentang masalah persatuan ini, Ustadz yang saat ini menempuh program Doktoral di Universitas Ibnu Khaldum Bogor pernah menanyakan langsung kepada salah satu Ulama Senior Saudi Arabia, Syaikh Bin Baz, tentang ketika seseorang berada dalam negeri kaum muslimin, apakah boleh punya pilihan untuk melaksanakan puasa dan idul fitri menyelisihi sebagian besar kaum muslimin di Negara tersebut, Syaikh memberikan jawaban, hendaknya mengikuti yang mayoritas walaupun meyakini yang sebaliknya.

Ustadz menambahkan contoh lain, ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengatakan kepada Istrinya Aisyah RA tentang rencana Nabi merombak bentuk ka'bah sesuai dengan bentuk yang dibuat Nabi Ibrahim awalnya. Nabi mengurungkan niatnya, karena kaum muslim saat itu baru masuk Islam, dikhawairkan menimbulkan gejolak di masyarakat yang melukai hati kaum tersebut. Ini menandakan bahwa sesuatu yang baik namun bukan hal pokok dapat ditinggalkan dengan pertimbangan menjaga ukhuwah dan persatuan.

Berkaitan dengan hubungan sesama muslim, Ustadz mengingatkan agar menghindari diri dari keadaan yang mengakibatkan orang lain bisa berprasangka buruk, olehnya itu seyogyanya perlu memberikan lebih dahulu penjelasan kepada seseorang terhadap sesuatu yang berpotensi menimbulkan masalah dan tidak mendiamkannya. Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika suatu malam berjalan bersama Istrinya Ruqayyah, namun pada saat itu, ada Sahabat berada di dekat Nabi. Maka untuk mencegah Sahabat tersebut berprasangka buruk, maka Rasulullah langsung menghampirinya, dan mengatakan bahwa perempuan yang bersamanya, adalah Ruqayyah, Istri Rasulullah.

Di sisi lain, makna adanya pertemuan antara sesama muslim adalah dapat memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi, karena jika sesorang sering bertemu dapat mencairkan permasalahan yang ada. Dengan bertemu orang dapat saling mengingatkan dan saling mengungkapkan unek-unek yang ada.

Secara Spesifik, Ustadz mengingatkan akan pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua dan kerabat dekat dan jauh. Birrul Walidain yang merupakan istilah berbuat baik kepada kedua orangtua mengandung makna akan ditekannya pro aktif dari sisi anak.

Menghormati yang lebih tua, juga salah satu yang ditekankan. Bagi mereka yang berada pada posisi lebih muda umurnya hendaknya lebih dulu dan menyadari akan penting namanya penghormatan kepada yang lebih tua, walaupun di sisi lain orang yang lebih tua, jika lebih dahulu memberikan perhatian, itu merupakan kelebihan untuknya, dalam bersegera melakukan kebaikan.

Dengan demikian, menurut Ustadz akan lahir suatu peradaban yang tinggi dengan etika Islam yang timbul secara alami dan otomatis dalam interaksi dalam kehidupan.

Menyikapi adanya pembakaran al Quran oleh dua pendeta di Amerika beberapa hari lalu, Ketua Umum WI menegaskan bahwa peristiwa ini tidak boleh lewat begitu saja, ini merupakan sesuatu peristiwa yang menyayat hati kaum muslimin.

Perlu ada sikap yang jelas dan nyata sebagai wujud keimanan dan mengagungkan syiar Allah, tentunya sikap yang diberikan sesuai dengan arahan al Quran dengan tidak emosional melakukan tindakan fisik yang anarkis dan tidak sesuai syariat.

Dalam tablik akbar ini, Ustadz menyampaikan lima pesan untuk menyikapi hal tersebut:

Pertama, sudah saatnya untuk kembali menggelorakan dalam mengsakralkan Mushaf Al Quran, dihidupkan dalam hati-hati kaum muslimin dalam kelurga yang harus diagungkan dan ditinggikan. Bentuk penghormatan terhadap al Quran juga boleh dengan menciumnya secara langsung.

Kedua, mempelajari cara membacanya dengan kaidah tajwid yang benar

Ketiga, memperbanyak membaca Al Quran. Dan membiasakan selalu membawa al Quran jika bepergian sehingga bisa mempermudah untuk dekat dengan al Quran sewaktu-waktu.

Keempat, mentadabburi ayat-ayat Al Quran, dengan mempelajari tafsir dan minimal memahami terjemahannya.

Kelima, peristiwa ini dijadikan momentum untuk melahirkan sebanyaknya para penghafal Al Qura’an. Pada asalnya al Quran itu dihafal seperti pada zaman Rasulullah. Dan Wahdah Islamiyah sudah mencanangkan gerakan nasional untuk “Satu Rumah Satu penghafal Al Quran”.
Dalam kesempatan tersebut Ketua Umum akan memberikan apresiasi umrah bersama suami, kepada Ummahat yang dapat Hafal Al Quran dalam jangka waktu 1 tahun.


Keenam, pengagungan terhadap Al Quran adalah dengan mengamalkan dan mendakwahkannya ke umat.

Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah Ustadz Abd.Said Shamad, Lc di akhir acara menyampaikan arahan pentingnya menjaga ukhuwah sesama muslim dalam rangka memperkuat dan menyolidkan dakwah. Juga Ustadz mengingatkan bahwa berbagai kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan di bulan Ramadhan, hendaknya dapat terus dilanjutkan di Luar Ramadhan. Di Bulan Syawal ini menurutnya, ada syariat untuk berpuasa selama enam hari. Puasa ini sebaiknya untuk segera diselesaikan, tidak selalu ditunda.

Acara silaturahmi ini diawali oleh penampilan beberapa Ikhwan dan Akhwat Cilik dalam menghafal surah pilihan, yang merupakan alumni program 17 hari menghafal Al Quran Ramadhan yang lalu.Diantaranya adalah Muadz Bin Rony Mahmuddin, Sofiyah Binti Syaiful Yusuf, Raehanah Binti Muh.Ikhwan AJ, Zahrah Binti Zubair Alam.

No comments:

Post a Comment